TRIBUNNEWS.COM - Gigi susu yang tampak putih dan bersih bukan hanya membuat senyum anak terlihat sehat.

Kondisi tersebut juga penting untuk mendukung proses makan, kenyamanan, hingga pertumbuhan gigi permanen di kemudian hari.

Sayangnya, anak-anak termasuk kelompok yang cukup rentan mengalami karies atau gigi berlubang.

Dokter Gigi Klinik APIC, drg. Nadya Cita Bella, menjelaskan bahwa menjaga kesehatan gigi anak perlu dilakukan sejak gigi susu pertama kali tumbuh.

Kuncinya bukan sekadar menggunakan pasta gigi hingga menghasilkan banyak busa, tetapi memastikan seluruh permukaan gigi benar-benar bersih dari sisa makanan.

“Yang penting sebetulnya semua permukaan gigi tersikat, kemudian yang penting juga tidak ada sisa makanan,” ujar drg. Nadya Cita Bella dalam wawancara bersama jurnalis TribunHealth.com, Ahmad Nur Rosikin, di Kantor Tribunnews Solo, Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Senin (9/3/2026).

Mulai Bersihkan Gigi Sejak Pertama Kali Tumbuh

Perawatan gigi anak sebaiknya tidak menunggu hingga muncul lubang atau rasa sakit.

Begitu gigi susu mulai tumbuh, orang tua sudah perlu memperhatikan kebersihannya.

Menurut drg. Nadya, gigi anak tetap perlu dibersihkan menggunakan pasta gigi dengan jumlah yang disesuaikan.

Anak-anak yang belum mampu berkumur dan meludah pun tetap harus dibiasakan menyikat gigi.

Baca juga: Kapan Gigi Berlubang atau Patah Harus Ditambal? Ini Penjelasan Dokter Gigi

“Kalau misalnya belum bisa, bukan berarti jadi enggak disikat. Tetap disikat, tetap dengan pasta,” katanya.

Pasta gigi juga tidak perlu digunakan terlalu banyak. Selain itu, banyaknya busa bukan tanda bahwa gigi semakin bersih.

Yang lebih penting adalah teknik menyikat sehingga seluruh permukaan gigi dapat terjangkau dan sisa makanan tidak tertinggal.

Biasakan Sikat Gigi Pagi dan Malam

Membangun kebiasaan menyikat gigi menjadi salah satu kunci utama mencegah karies.

Anak perlu dibiasakan menyikat gigi secara rutin, terutama pada pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Kebiasaan ini idealnya dimulai dari lingkungan keluarga. Anak cenderung lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang tuanya.

Karena itu, orang tua dapat mengajak anak menyikat gigi bersama agar kegiatan tersebut menjadi rutinitas yang menyenangkan.

“Misalnya anaknya ngelihat orang tuanya punya habit yang baik, sikat gigi, terutama sebelum tidur, pagi hari setelah sarapan sikat gigi terus. Nanti lama-kelamaan anaknya mungkin diajak ikutan,” ujar drg. Nadya.

Agar anak tidak menganggap sikat gigi sebagai kegiatan yang menakutkan atau membosankan, orang tua juga bisa menciptakan suasana yang lebih menyenangkan.

Misalnya dengan memilih sikat gigi bergambar karakter kesukaan anak atau menjadikan waktu menyikat gigi sebagai permainan sederhana.

Jangan Biarkan Anak Mengemut Makanan Terlalu Lama

Selain rajin menyikat gigi, kebiasaan makan anak juga perlu diperhatikan.

Salah satu kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko karies adalah mengemut makanan terlalu lama di dalam mulut.

Makanan yang terus menempel pada gigi, termasuk makanan yang tidak terasa manis, dapat meninggalkan sisa di rongga mulut.

Anak-anak sering kali tidak menyadari adanya makanan yang terselip karena langsung kembali bermain setelah makan.

“Semakin lama makanan itu ada di rongga mulut,” risiko masalah pada gigi juga perlu menjadi perhatian.

Karena itu, anak sebaiknya dibiasakan mengunyah makanan dengan baik dan tidak terlalu lama mengemutnya.

Orang tua juga dapat mengajarkan anak untuk minum air putih setelah makan serta memastikan tidak ada sisa makanan yang tertinggal.

Batasi Kebiasaan Makan Manis dan Minum Susu hingga Tertidur

Anak-anak umumnya menyukai makanan manis seperti cokelat, permen, atau puding.

Kebiasaan tersebut perlu dikontrol karena makanan mengandung gula dapat meningkatkan risiko terjadinya karies, terutama jika kebersihan gigi kurang terjaga.

Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa risiko karies tidak hanya berasal dari permen atau cokelat. Berbagai makanan yang mengandung gula atau dapat meninggalkan sisa pada gigi juga perlu diperhatikan.

Selain itu, kebiasaan minum susu menggunakan dot hingga anak tertidur juga sebaiknya tidak dibiarkan berlangsung terus-menerus.

Susu, baik ASI maupun susu formula, tetap penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Akan tetapi, sisa susu yang berada terlalu lama di rongga mulut tanpa dibersihkan dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gigi berlubang.

“Kalau misalnya dengan dot itu cenderung biasanya anaknya sudah bisa pegang sendiri terus habis itu ketiduran,” kata drg. Nadya. Kondisi tersebut membuat cairan dapat berada di mulut dalam waktu lama tanpa sempat dibersihkan.

Perhatikan Tanda Awal Karies, Jangan Tunggu Gigi Menghitam

Karies tidak selalu langsung terlihat sebagai lubang hitam pada gigi. Menurut drg. Nadya, tahap awal dapat ditandai dengan munculnya bercak putih atau white spot yang warnanya lebih putih dibandingkan warna alami gigi.

“Stage awal dari karies itu namanya white spot. Kalau white spot itu dia lebih putih dari gigi aslinya,” jelasnya.

Jika tanda awal tersebut tidak diperhatikan, perubahan dapat berlanjut dari bercak putih menjadi kekuningan, kecokelatan, hingga akhirnya menghitam dan membentuk lubang.

Pada tahap awal, kondisi gigi masih memiliki peluang untuk membaik melalui proses remineralisasi dengan penanganan yang tepat.

Namun, ketika sudah terbentuk lubang, gigi memerlukan perawatan dari dokter gigi.

Karena itu, orang tua sebaiknya rutin memeriksa kondisi gigi anak dan tidak hanya menunggu sampai anak mengeluhkan sakit.

Periksa ke Dokter Gigi Sejak Dini

Kunjungan pertama ke dokter gigi sebenarnya dapat dilakukan sejak gigi anak mulai tumbuh.

Tujuannya bukan hanya untuk menangani masalah, tetapi juga memperkenalkan anak pada suasana pemeriksaan gigi sejak dini.

Orang tua juga dapat memanfaatkan kunjungan tersebut untuk berkonsultasi mengenai cara menyikat gigi, penggunaan pasta gigi, hingga kebiasaan makan yang baik untuk kesehatan gigi anak.

Jika tidak ada keluhan, pemeriksaan dapat dilakukan secara rutin setiap enam bulan.

Namun, bila muncul bercak mencurigakan, lubang, nyeri, pembengkakan, atau tanda infeksi, anak sebaiknya segera diperiksakan.

Gigi Susu Tetap Harus Dirawat

Anggapan bahwa gigi susu tidak perlu dirawat karena nantinya akan tanggal sendiri merupakan mitos.

Gigi susu memiliki peran penting dalam membantu anak mengunyah makanan dan menjaga ruang bagi pertumbuhan gigi permanen.

Karies yang dibiarkan hingga menyebabkan kerusakan parah atau infeksi dapat membuat anak merasa sakit dan sulit makan. Dalam kondisi tertentu, masalah pada gigi susu juga dapat memengaruhi pertumbuhan gigi permanen.

Karena itu, gigi susu yang berlubang tidak sebaiknya dibiarkan begitu saja. Penanganannya dapat berupa perawatan atau penambalan, tergantung kondisi gigi anak.

Pada akhirnya, menjaga gigi susu anak tetap putih, bersih, dan bebas karies dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Orang tua perlu membiasakan anak menyikat gigi dengan benar, memastikan tidak ada sisa makanan yang tertinggal, menghindari kebiasaan mengemut makanan terlalu lama, serta memperhatikan kondisi gigi sejak awal tumbuh.

“Biasakan habit untuk sikat gigi pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur,” pesan drg. Nadya.

“Baik dari orang tuanya maupun anaknya, semua harus punya habit itu supaya terhindar dari karies gigi," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.