TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Notifikasi yang terus berdatangan, tren media sosial yang berganti cepat, hingga perdebatan di dunia maya membuat banyak orang sulit benar-benar berhenti sejenak.
Fenomena doomscrolling, ketika seseorang terus menggulir informasi meski isinya membuat cemas atau lelah, menjadi salah satu gambaran kehidupan digital yang dihadapi generasi muda saat ini.
Di tengah kondisi tersebut, AQUA mengajak anak muda menemukan kembali kemampuan untuk pause atau berhenti sejenak sebelum merespons berbagai situasi.
Pesan itu disampaikan melalui diskusi bertajuk "Finding Your Calm in the Age of Chaos" dalam rangkaian IDEAFEST 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Baca juga: Mensos Gus Ipul: Dua Opsi Lulusan Sekolah Rakyat, Jadi Pekerja Terampil atau Lanjut Kuliah
Talkshow tersebut dihadiri lebih dari 250 peserta dan menghadirkan Head of Brand AQUA Riza Rahman serta aktor, entrepreneur, dan sports enthusiast Daffa Wardhana.
Diskusi tersebut dimoderatori Co-Chair IDEAFEST 2026 Desy Bachir.
Riza mengatakan, derasnya informasi membuat seseorang kerap merasa harus segera memberikan respons terhadap segala sesuatu yang muncul di hadapannya.
Padahal, tidak semua hal harus langsung ditanggapi, terutama ketika seseorang sedang berada dalam kondisi emosional.
"Hari ini kita hidup di tengah informasi yang datang tanpa henti. Sering kali kita merasa harus langsung merespon semuanya, padahal tidak semua hal perlu ditanggapi saat itu juga. Di tengah situasi seperti ini, selalu ada orang-orang yang memilih untuk pause, mengatur diri, lalu merespon dengan lebih sadar. Mereka inilah yang kami sebut sebagai Kaum Adem," ujar Riza Rahman, Head of Brand AQUA.
Baca juga: Usai Diterpa Abu Vulkanik, DKI Tancap Gas Tertibkan Kabel Semrawut Gatot Subroto-Cawang
Menurut Riza, menjadi adem bukan berarti pasif atau menghindari persoalan.
Sikap tersebut justru dimaknai sebagai kemampuan menjaga ketenangan ketika menghadapi situasi yang memancing emosi sehingga seseorang dapat mengambil keputusan dengan lebih baik.
Riza juga mengaitkan kebiasaan sederhana seperti menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan momen untuk berhenti sejenak di tengah aktivitas.
Ia mengatakan, hidrasi yang cukup berperan dalam menjaga konsentrasi, fungsi kognitif, suasana hati, dan performa dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
"Kadang yang kita butuhkan untuk recharge justru hal-hal sederhana. Menjaga hidrasi adalah salah satunya. Filosofi ini juga selaras dengan keunggulan AQUA yang mengandung mineral alami seimbang dari sumber air pegunungan terpilih dan terlindungi," tambah Riza.
Ia juga menyebut hasil survei konsumen yang menyatakan 9 dari 10 konsumen Indonesia mengakui AQUA terasa dingin tanpa perlu didinginkan.
Menurut Riza, sensasi dingin alami tersebut menjadi bagian dari pesan "adem" yang ingin dibawa AQUA dalam keseharian masyarakat.
Kaum Adem di Tengah Drama Timeline
Melalui kampanye "Hanya AQUA, yang Dingin Alaminya, Ademin Kamu", AQUA mengajak generasi muda membangun kebiasaan yang lebih positif dalam menghadapi berbagai tekanan.
Salah satunya dengan mengambil jeda sebelum menulis komentar, mengelola emosi ketika menghadapi tekanan, serta tetap fokus menjalani aktivitas meski banyak distraksi digital.
Baca juga: Catat Pendapatan Rp105,8 Miliar Semester I 2026, Venteny Fokus Perkuat Bisnis Inti dan Monetisasi
"Sebagai bangsa, kita memiliki budaya yang menjunjung kebersamaan dan keharmonisan. Kami percaya bahwa sifat 'adem' sebenarnya sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia," kata Riza.
Ia berharap nilai tersebut tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin cepat.
Dalam kesempatan yang sama, Daffa Wardhana membagikan pengalamannya sebagai pelari maraton.
Menurut Daffa, tekanan fisik dan mental biasanya semakin terasa ketika seorang pelari memasuki kilometer-kilometer krusial menjelang garis finis.
Pada situasi tersebut, kemampuan mengatur napas, menjaga fokus, dan tetap tenang menjadi bagian penting untuk menyelesaikan perlombaan.
"Sebagai pelari marathon, saya belajar bahwa tidak semua tantangan harus dilawan dengan terburu-buru. Ada kalanya kita perlu melambat sejenak, mengatur napas, memastikan tubuh tetap terhidrasi, recharge, lalu kembali fokus pada langkah berikutnya," ujar Daffa.
Menurut Daffa, prinsip tersebut tidak hanya berlaku ketika berlari.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga perlu mengetahui kapan harus berhenti sejenak sebelum kembali menghadapi berbagai tekanan.
"Dalam kehidupan sehari-hari, di tengah banyaknya distraksi dan tekanan, kemampuan untuk tetap tenang justru membuat kita bisa melangkah lebih jauh," lanjutnya.
Daffa juga berupaya memberikan dampak positif di luar aktivitas olahraga.
Ia berkolaborasi dengan komunitas yang mengampanyekan donor darah bagi penyandang talasemia.
Baca juga: Mendagri Tito Minta Pemda Percepat Penyaluran Bantuan Bencana di NTT untuk Penuhi Kebutuhan Warga
Melalui kegiatan lari bersama komunitas, Daffa turut membantu meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya dukungan bagi penyandang talasemia serta edukasi mengenai penyakit tersebut.
Tetap Tenang Bukan Berarti Berhenti
Melalui diskusi tersebut, AQUA ingin menegaskan bahwa menjadi "adem" bukan berarti menghindari tantangan ataupun berhenti bergerak.
Sikap adem dimaknai sebagai kemampuan untuk tetap tenang, adaptif, dan hadir sepenuhnya ketika menghadapi berbagai situasi.
Dengan kondisi tersebut, seseorang diharapkan dapat memberikan respons yang lebih sadar dan membawa dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.
AQUA menyatakan terus berupaya mendorong kebiasaan sederhana yang mendukung kehidupan masyarakat yang lebih sehat, seimbang, dan positif.
Perusahaan tersebut telah hadir selama lebih dari lima dekade dan dikenal sebagai salah satu pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.