Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Di balik aroma gurih bekicot goreng yang dijajakan setiap malam di Alun-alun Karanganyar, tersimpan perjuangan panjang seorang ayah bernama Wijiyanto (44).
Berjualan kuliner yang dulu kerap dianggap menjijikkan, warga Kampung Kerten RT 4/RW 8, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar itu kini mampu menyekolahkan dua anaknya hingga merenovasi rumah.
Setiap sore hingga malam hari, Wijiyanto berkeliling menawarkan bekicot goreng dengan suara khas yang sudah dikenal para pelanggan di kawasan Alun-alun Karanganyar. Dari usaha sederhana itu, ia menghidupi istri, dua anak, dan ibunya.
Saat ditemui di rumahnya, Wijiyanto mengaku telah menekuni usaha kuliner bekicot sejak tahun 2008. Awalnya, ia hanya mencoba mengolah bekicot yang selama ini dianggap tidak layak konsumsi.
Baca juga: Bekicot Goreng di Karanganyar Dijamin Bersih: Daging Direbus 2 Kali, Dibilas 7 Kali Lalui Dibumbui
"Saya sudah lama menggeluti kuliner ini, Awal mulanya dulu belum ada yang jual itu jadi hidangan, dulu kata orang, bekicot menjijikan setelah saya coba masak dan rasakan sendiri, ternyata rasanya enak juga," kata Wijiyanto, Rabu (3/6).
Pada masa awal merintis usaha, Wijiyanto mencari sendiri bekicot di kebun-kebun warga, terutama saat musim hujan. Namun kini, bahan baku lebih banyak didatangkan dari Kediri dan wilayah Masaran, Sragen, dalam bentuk daging beku.
"Kalau musim hujan, saya cari di kebun-kebun. Namun musim kemarau saya ambil dari hidangan beku, dari Kediri dan Masaran Sragen," kata dia.
Menurutnya, proses mengolah bekicot hingga layak konsumsi membutuhkan waktu cukup panjang. Daging bekicot harus dibersihkan dari lendir dan kotoran melalui beberapa tahap perebusan dan pencucian.
"Awalnya yang beku, itu kita rebus dulu sekitar 1 jam, setelah itu kita masukan ke saringan (ember bolong-bolong) setelah itu dilakukan pembersihan kepala dan kotoran, setelah itu dilakukan perebusan lagi untuk mengempukkan dagingnya sekira 1 jam," ungkap dia.
Baca juga: Dulu Diejek Jualan Bekicot Goreng, Wijiyanto Mampu Hidupi Keluarga dari Omzet Rp500 Ribu per Hari
"Setelah itu dicuci lagi, dan dibilas sebanyak 7 kali bilas hingga bersih dan minimal 5 kali bilas agar bersih dari di lendirnya setelah dicuci bersih, baru dimasak, karena kebersihan itu saya utamakan, karena saya dan keluarga saya ikut makan dan pelanggan merasa tidak kapok membelinya," ujar dia.
Setelah bersih, daging bekicot dimasak menggunakan racikan bumbu khas seperti cabai, garam, kemiri, dan bawang putih yang diulek hingga menyatu.
"Kalau saya dimasak goreng, karena bisa bertahan beberapa hari, dan tidak cepat berlendir, sedangkan untuk hidangan rica-rica bekicot dibuat jika ada pesanan," ucap dia.
Wijiyanto mengaku perjalanan usahanya tidak mudah. Pada awal berjualan, banyak masyarakat yang menganggap bekicot bukan makanan lazim dan enggan mencoba.
"Dulu masih sulit menjual karena masih mengira hidangan daging bekicot bukan makanan yang lazim dikonsumsi manusia dan banyak yang mengejek, meskipun begitu, saya tidak putus asa tetap berjualan, mulanya jualan keliling desa, kemudian dilanjutkan ke pelosok-pelosok desa dan banyak yang mau, dan akhirnya saya lanjutkan terus hingga sekarang," kata dia.
Usaha keliling desa kemudian berkembang hingga akhirnya ia rutin mangkal di kawasan Alun-alun Karanganyar. Meski sempat merasa putus asa di awal berjualan di lokasi tersebut, Wijiyanto memilih bertahan demi keluarganya.
"Saya di sini selama 3 bulan pertama di Alun-alun Karanganyar hampir putus asa, namun demi sekolah anak dan penghidupan sekarang, saya tetap semangat berjualan, hingga sekarang," kata Wijiyanto.
Kini dagangannya justru banyak dicari pelanggan. Bekicot goreng yang dijualnya hampir selalu habis sebelum pukul 21.00 WIB.
Baca juga: Kuliner Anti Mainstream di Karanganyar: Sate Landak, Tongseng Bekicot hingga Rica-rica Biawak
"Kalau habis langsung pulang, kalau gak langsung pulang banyak yang tanya ke saya terus, bahkan ada yang cari sampai ke rumah, atau nggak kontak istri dan anak untuk membeli Bekicot Goreng itu," kata dia.
Selain bekicot goreng, Wijiyanto kini juga menjual rica keong serta intip titipan keluarganya. Harga jualnya pun masih terjangkau, mulai Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per bungkus.
Dalam sehari, ia bisa mengolah sekitar 10 hingga 15 kilogram bekicot dengan omzet kotor mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari.
Dari hasil berjualan itulah, Wijiyanto perlahan mampu membiayai pendidikan anak-anaknya sekaligus memperbaiki rumah tempat tinggal keluarganya.
"Hasilnya Alhamdulillah, bisa untuk sekolah anak, memperbaiki rumah sedikit-sedikit. Di sini saya tinggal bersama istri dua anak dan ibu saya," ungkap dia. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.