Jakarta (ANTARA) - Yenny Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) melalui Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Jakarta, dengan agenda utama memperkuat tata kelola organisasi, pemberdayaan perempuan, serta meningkatkan peran perempuan Indonesia di tingkat global.
Yenny mengatakan mandat yang diberikan anggota KOWANI menjadi tanggung jawab untuk memastikan organisasi perempuan tersebut tetap relevan dalam menjawab tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia pada abad kedua keberadaannya.
"Ini bukan kemenangan satu orang. Ini kemenangan seluruh perempuan Indonesia yang tidak mau melihat rumah besar mereka runtuh. KOWANI adalah amanah, dan di abad kedua ini, amanah itu akan kami emban dengan lebih kuat, lebih luas, dan lebih inklusi," kata Yenny dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Usai terpilih, Yenny menetapkan lima prioritas utama, yakni rekonsiliasi dan penguatan organisasi, pemberdayaan ekonomi perempuan, perlindungan perempuan dan anak, pengembangan kepemimpinan perempuan generasi baru, serta penguatan peran Indonesia dalam gerakan perempuan dunia.
Pada aspek tata kelola, KOWANI berupaya memperkuat transparansi dan akuntabilitas organisasi sekaligus memastikan seluruh anggota memiliki ruang partisipasi yang setara dalam pengambilan keputusan.
"Tidak boleh ada yang merasa ditinggalkan. Tidak boleh ada yang merasa tidak didengar," ujarnya.
Di bidang pemberdayaan ekonomi, KOWANI akan mendorong peningkatan akses perempuan terhadap pelatihan, pengembangan usaha, teknologi digital, pembiayaan, dan jaringan bisnis guna memperkuat kemandirian ekonomi perempuan di berbagai daerah.
Sementara pada isu perlindungan perempuan dan anak, organisasi tersebut akan memperkuat advokasi kebijakan, pencegahan kekerasan, serta sistem pendampingan yang berpihak kepada korban.
KOWANI juga berupaya menyiapkan generasi baru pemimpin perempuan melalui berbagai program pengembangan kapasitas yang melibatkan perempuan dari beragam latar belakang dan wilayah.
Selain itu, organisasi tersebut berencana mengaktifkan kembali peran Indonesia dalam forum-forum perempuan internasional, termasuk memperkuat partisipasi di forum Commission on the Status of Women (CSW) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebagai langkah awal, Yenny menetapkan tiga agenda prioritas, yakni perbaikan tata kelola organisasi sesuai prinsip kolektif kolegial, penguatan kolaborasi lintas generasi, serta pemulihan posisi KOWANI di tingkat internasional.
KLB KOWANI digelar sebagai bagian dari upaya penyelesaian persoalan internal organisasi dan pemulihan tata kelola. Menurut panitia, keputusan kongres diambil melalui mekanisme pemungutan suara yang memenuhi ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi dengan dukungan lebih dari dua pertiga anggota aktif.
Yenny dikenal aktif dalam berbagai program pemberdayaan perempuan melalui Wahid Foundation. Salah satu program yang dikembangkannya, Desa Damai, disebut telah menjangkau lebih dari 176 ribu perempuan di 31 desa di Pulau Jawa sebagai bagian dari upaya penguatan peran perempuan dalam pembangunan dan perdamaian.