TRIBUNNEWS.COM - Langkah Juventus di Liga Champions berada di ujung tanduk setelah dihajar Galatasaray 5-2 pada leg pertama play-off di Istanbul, Rabu (18/2/2026).
Si Nyonya Tua kini membutuhkan kemenangan minimal selisih tiga gol di Allianz Stadium untuk menjaga asa lolos ke 16 besar.
Tuan rumah membuka skor lewat Gabriel Sara, tetapi Juventus sempat membalikkan keadaan menjadi 2-1 berkat dua gol Teun Koopmeiners sebelum turun minum.
Namun babak kedua berubah jadi mimpi buruk. Galatasaray membalikkan keadaan menjadi 3-2 berkat gol Noa Lang dan Davinson Sanchez.
Situasi makin sulit setelah Juan Cabal mendapat kartu merah pada menit ke-67, disusul cedera Gleison Bremer.
Gol kedua Noa Lang dan Sacha Boey di akhir laga membuat Juventus kalah 5-2, menjadi kali kedua bagi Bianconeri kebobolan lima gol atau lebih di kompetisi Eropa — terakhir kali terjadi saat takluk 0-7 dari Wiener Sport-Club pada 1958/59.
Baca juga: Amarah Spalletti Meledak, Juventus Pulang dengan Rekor Buruk dari Istanbul
Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk, melainkan alarm keras bagi skuad yang dipimpin Luciano Spalletti.
Juventus kini wajib menang dengan selisih tiga gol di leg kedua di Allianz Stadium untuk lolos ke 16 besar.
Sayangnya, misi Juventus membalikkan situasi untuk comeback ini tak didukung oleh sejarah yang dicatatkan tim-tim Italia.
Sebelumnya, hanya ada empat kasus tim Italia kebobolan lima gol atau lebih pada leg pertama fase gugur kompetisi Eropa, meliputi Inter Milan, dan dua tim ibukota Italia, AS Roma dan Lazio.
Sayangnya, empat laga di masa lalu itu berakhir dengan eliminasi. Tak satu pun yang mampu membalikkan keadaan di leg kedua.
Rekor buruk inilah yang kini menghantui Juventus. Berikut tim Italia yang pernah kebobolan lima gol.
Baca juga: Juventus Lagi-lagi Kartu Merah, Galatasaray Pesta 5 Gol ke Gawang Nyonya Tua
Legenda Alessandro Del Piero menilai kekalahan telak yang dialami Juventus menunjukkan rapuhnya kondisi mental dan fisik tim.
Menurutnya, Galatasaray tampil jauh lebih siap dan bermain dengan intensitas tinggi, sementara Juventus melakukan terlalu banyak kesalahan mendasar.
"Semua aspek berdampak pada Spalletti, dalam arti semuanya berjalan salah," ujar Del Piero kepada Tuttosport.
"Ini menunjukkan bahwa jika Juventus tidak berada dalam kondisi terbaiknya, maka inilah risiko yang mereka hadapi. Itulah kenyataannya."
"Mereka bisa membuat kesalahan-kesalahan sepele yang langsung dihukum lawan, dan mereka berisiko tidak benar-benar hadir secara mental di lapangan," lanjutnya.
Menurut Del Piero, Juventus harus “membalikkan energi” jika ingin menciptakan keajaiban.
Namun menurutnya, andai Juventus tersingkir, bermain satu laga per pekan mungkin bukan hal terburuk bagi skuad saat ini — mengingat padatnya jadwal dan inkonsistensi performa.
"Ketika Anda bermain setiap tiga hari dan harus selalu berada di level tertinggi, di situlah terlihat potensi nyata sebuah tim dan sejauh mana mereka bisa melangkah."
"Jika Juve tidak mampu menemukan konsistensi itu, mereka akan kesulitan menjalani jadwal tiga pertandingan dalam sepekan, terlepas dari performa bagus yang sempat mereka tunjukkan sebelumnya."
"Mereka perlu membalikkan energi mereka jika mereka ingin lolos ke babak berikutnya, karena para pemain Galatasaray itu hampir kerasukan," jelasnya
Kini segalanya ditentukan di Turin. Juventus wajib tampil sempurna, tajam, dan solid tanpa cela. Jika tidak, mereka akan mengikuti jejak pahit Inter dan Roma — tersingkir setelah dihajar lima gol di leg pertama.
Pertanyaannya: mampukah Si Nyonya Tua menulis sejarah baru, atau justru menambah daftar kegagalan comeback klub Italia di Eropa?
Leg kedua Juventus vs Galatasaray bakal digelar tengah pekan depan pada Kamis (26/2/2026) di Allianz Stadium, Turin.
(Tribunnews.com/Tio)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.