TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Warga di Kabupaten Tana Tidung (KTT) kerap mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG 3 Kg. Selain stok yang kerap kosong di pangkalan, harga jual di tingkat pengecer pun melonjak hingga Rp40 ribu per tabung.

Yesi, warga Tideng Pale Timur, mengaku harus berkeliling sejak pagi untuk mencari gas elpiji bersubsidi tersebut. Ia mengatakan, ketersediaan LPG 3 Kg tidak menentu.

"Kadang memang tabung kita masih ada isinya pada saat gas datang begitu pas sudah kosong kita mau beli di pangkalan habis juga sudah stok LPG di pangkalan," ujar Yesi kepada TribunKaltara.com, Rabu (18/2/2026).

Ia mengaku lebih sering membeli di pengecer karena stok di pangkalan kerap habis. 

Meski harganya lebih mahal, ia terpaksa membeli demi kebutuhan rumah tangga.

"Saya lebih sering beli di pengecer harganya itu Rp40 ribu, kalau di pangkalan biasanya Rp30 ribu. Tapi ada juga yang sampai Rp35 ribu kalau tidak salah ingat, soalnya saya cuma sekali beli di pangkalan sekitar 2 bulan yang lalu," katanya.

18022026 gas LPG 3 Kg langka di Tana Tidung 001
DISTRIBUSI LPG - Pendistribusian LPG 3 kg di pangkalan yang ada di Jalan Padat Karya, Tideng Pale Timur, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, Rabu (18/2/2026). Di pengecer, harga LPG 3 Kg jauh di atas HET, menjadi Rp40 ribu per tabung.

Baca juga: Disperindagkop Tana Tidung Siap Terlibat Operasi LPG 3 Kg, Tunggu Informasi Resmi dari Pertamina

Yesi yang baru enam bulan tinggal di Tana Tidung dan menetap di Tideng Pale Timur juga mengaku belum mengetahui secara pasti Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 Kg.

"Kalau untuk harga HET di pangkalan terus terang saya belum tahu karena dari pangkalan juga tidak kasih tahu berapa tapi katanya (konsumen lain) itu Rp30 ribu," ungkapnya.

Ia baru mengetahui HET sebesar Rp28 ribu dari informasi yang beredar.

"Bahkan waktu saya beli yang dulu itu di kasih tahu langsung sama pangkalan antara Rp30 ribu Rp35 ribu, saya baru tahu HET Rp28 ribu bukan karena tidak mau kembalian kalau uang saya lebih terus dikembalikan ya Alhamdulillah berarti kan lebih murah," ucapnya.

Terkait penyebab kelangkaan, Yesi mengaku tidak mengetahui secara pasti.

"Kalau masalah LPG ini kosong saya kurang tahu karena kebetulan gas saya baru habis tadi pagi tapi kalau dari grup atau sekitar sih banyak aja sih yang bilang gas 3 kilo ini susah," katanya.

Ia juga mengaku tidak mengetahui jadwal pasti kedatangan gas karena tidak tergabung dalam grup informasi.

"Saya juga tidak tahu kapan gas ini datang karena kebetulan saya juga tidak masuk grup WA jadi tidak tahu kalau gas datang," ucap Yesi.

Keluhan serupa disampaikan Halim, warga Desa Tideng Pale yang berprofesi sebagai pedagang gorengan.

Ia menilai hanya satu pangkalan yang relatif lancar dalam penyaluran, yakni di Jalan Padat Karya Desa Tideng Pale Timur.

"Di satu pangkalan ini saja bisa kita dapat lumayan lancar kalau pangkalan lain malah kayaknya untuk pengecer semua, maksudnya pengecer yang mendominasi," katanya.

Baca juga: LPG 3 Kg Kembali Kosong, Pedagang di Tideng Pale Timur Tana Tidung Terpaksa Pakai Tabung LPG 5 Kg

Ia menyebut, antrean kerap didominasi pengecer sehingga masyarakat kecil kesulitan mendapatkan jatah.

"Kita mau antri ya setengah mati mereka main di depan semua, pokoknya di pangkalan ini saja yang bagus (di Jalan Padat Karya Desa Tideng Pale Timur) yang baru buka mungkin dua atau tiga bulan ini kalau yang lain tidak bisa," ungkap Halim.

Menurut Halim, harga gas LPG 3 Kg di pangkalan selama ini rata-rata Rp30 ribu per tabung.

"Kalau masalah harga sama semua rata di semua pangkalan Rp30 ribu, dari dulu Rp30 ribu tidak pernah saya dapat Rp28 ribu memang sempat saya dengar di daerah Sesayap Hilir ada yang jual Rp28 ribu tapi kalau daerah sini tidak pernah," katanya.

Ia juga menanggapi soal adanya pengakuan masyarakat tidak mengambil kembalian Rp 2 ribu sehingga harga menjadi Rp30 ribu.

"Kalau masalah masyarakat yang tidak mau ambil kembalian kayaknya itu tidak pernah, memang pangkalan kasih tahu harganya Rp 28 ribu?," ujarnya sambil tertawa kecil.

"Kita yang betul aja lah kan, kalau memang harganya Rp30 ribu ya sudah Rp30 ribu lah tidak usah dimanipulasi lagi bicara putar balik, dari dulu kita beli harganya Rp30 ribu kalau memang betul (HET Rp28 ribu) ya dikasih tahu lah," tegasnya.

Sebagai pedagang, ia mengaku sangat bergantung pada LPG 3 Kg.

"Kita yang pedagang ini kan butuh LPG begini, kalau yang tabung pink tidak dapat untungnya, sedangkan yang Rp 40 ribu juga rugi sebetulnya tapi kalau sudah tidak ada ya mau tidak mau kan dari pada tidak jualan lebih rugi lagi tidak ada putaran ya serba salah lah," katanya.

Ia menambahkan, informasi kedatangan gas juga tidak pernah diumumkan secara resmi.

"Untuk informasi kapan gas datang itu asal kita rajin berjalan melihat (keliling melihat mobil distribusi atau ketersediaan gas 3 kilo), mana ada informasi grup WA juga mana ada," ujarnya.

"Kita tunggu lihat mobil LPG ini lewat baru kita tahu sudah datang itu pun kadang begitu kita sampai di pangkalan sudah habis, itu yang bikin kita kecewa," sambungnya.

Hal serupa disampaikan Lara, warga Desa Tideng Pale Timur. Ia mengaku lebih sering membeli di pengecer karena stok di pangkalan cepat habis.

"Kalau saya beli untuk pemakaian pribadi, biasanya di pangkalan Rp30 ribu," katanya.

"Kalau di pengecer harganya Rp 40 ribu, tapi ya mau tidak mau beli aja daripada tidak ada," tutupnya.

(*)

Penulis : Rismayanti

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.